Saturday, October 31, 2009

12:46 PM
Sebenarnya dari awal sudah kelihatan jelas bahwa ledakan di Bone Sulawesi Selatan pada 8 Oktober 2009 lalu disebabkan oleh masuknya benda langit yang kemudian berubah menjadi meteor besar. Atau dalam terminologi astronomi dinamakan fireball.

Fireball ini sejenis meteor namun mempunyai kecemerlangan cukup besar sehingga melampaui kecemerlangan planet Venus atau memiliki magnitude visual melebihi -4 (minus 4) sehingga ia bisa terlihat dengan jelas di siang bolong. Jika kecemerlangannya sangat tinggi sehingga menyamai atau melebihi kecemerlangan cahaya Bulan pada fase purnama maka fireball itu dinamakan superfireball atau bolide dalam istilah geolog.

Nah, mengapa ledakan Bone dengan mudah bisa dipastikan sebagai fireball? Indikasinya sederhana. Ada cahaya di langit yang diikuti dengan jejak asap lurus yang kemudian berkelok-kelok. Jejak asap lurus ini biasa diistilahkan sebagai "train" dan muncul akibat kondensasi partikel-partikel yang dihamburkan dari permukaan fireball akibat suhu tinggi saat bergesekan dengan molekul-molekul atmosfer Bumi.

Kondensasi ini membentuk awan khas pada ketinggian lebih kurang 60 km. Awan jenis ini juga yang teramati misalnya dalam kejadian fireball Tagish Lake (Januari 2000) di Canada, ataupun fireball asteroid 2008 TC3 (Oktober 2008) di Sudan.

Awan itu diikuti dengan suara bergemuruh yang menunjukkan tanda-tanda dentuman sonik (sonic boom). Suara ini terjadi akibat melintasnya sebuah obyek dengan kecepatan melebihi kecepatan suara. Ada 3 - 4 dentuman sonik yang terjadi sehingga terdapat kesan ada 3 - 4 obyek yang melintas.

Dengan hanya satu jejak asap yang terlihat sementara ada 3 - 4 obyek di dalamnya mengesankan bahwa fireball tersebut berukuran besar sehingga terfragmentasi (terpecah belah) pada ketinggian tertentu di atmosfer. Fragmentasi ini membuat terjadinya konversi dari energi fireball menjadi energi akustik (suara). Efisiensi konversi tersebut secara rata-rata hanya sebesar 0,1%.

Dentuman sonik itu diikuti dengan getaran di tanah (ground shaking). Ini fenomena yang hanya bisa disebabkan oleh fireball sehingga bisa menjadi penanda. Getaran di tanah disebabkan oleh konversi energi akustik menjadi energi seismik sehingga membentuk gelombang permukaan (alias gelombang Rayleigh) yang kemudian menjalar ke segenap arah.

Gelombang Rayleigh itu memang identik dengan gelombang gempa bumi. Terkecuali jikalau kita melihat rekaman seismogram dan akan terbuktikan bahwa rekaman seismogramnya sedikit berbeda dengan rekaman seismogram gempa bumi pada umumnya karena tidak didahului dengan rekaman gelombang P (primer) atau gelombang S (sekunder).

Gelombang Rayleigh ini penjalarannya lambat dan panjang gelombangnya besar. Dalam seismologi gelombang ini dikenal sebagai gelombang perusak karena dialah yang sebenarnya berperan penting dalam kerusakan permukaan Bumi akibat gempa. Nah, konversi energi akustik ke energi seismik tersebut secara rata-rata berkisar antara 0,01 - 0,00001%.

Dengan konversi sekecil itu dan sifatnya cascade (bertingkat) yakni dari energi awal ke energi akustik dan dari energi akustik ke energi seismik maka dibutuhkan energi awal yang cukup besar dan itu hanya dimiliki oleh fireball. Manuver pesawat supersonik, jatuhnya sampah antariksa, maupun gerakan roket sekali pun takkan sanggup menciptakan fenomena itu karena kecilnya energi awal (energi kinetik) mereka.

Analisis infrasonik dari 12 stasiun infrasonik dilengkapi microbarometer di sekitar Indonesia dalam jejaring pemantauan CTBT (Comprehensive Test Ban Treaty) atau jaringan stasiun pemantau uji coba nuklir atmosferik yang berada dalam pengawasan PBB menunjukkan ledakan Bone merupakan fireball dengan energi 60 kiloton TNT atau 3 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima.

Jika menggunakan basis kecepatan rata-rata meteor yang jatuh ke Bumi sebesar 20,3 km/detik (73.000 km/jam) maka fireball ini semula merupakan asteroid dengan massa 1.200 ton dan berdiameter 6,6 - 9,2 meter. Bergantung apakah asteroid tersusun oleh besi (siderit, densitas 8 g/cc) atau batuan (kondritik atau karbon kondiritik atau akondrit, dengan densitas 3 g/cc).

Ketika memasuki atmosfer Bumi ia memiliki kecemerlangan sebesar -13,3 alias 1,66 kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama. Sehingga, andaikata fireball Bone ini jatuhnya pada malam hari penduduk Bone dan sekitarnya akan melihat langit terang benderang dalam sekejap melebihi terangnya Bulan.

Fireball ini dipastikan mengalami fragmentasi pada ketinggian rendah ditandai dengan rasio konversi energi akustik ke seismik yang berharga sekitar 0,01% sehingga BMKG sempat merekam getaran seismiknya sebagai gempa dengan magnitude (surface magnitude) 1,9 skala Richter yang semula sempat dikacaukan dengan aktivitas patahan Saddang (yang kebetulan ada didekatnya). Dan, dengan magnitude visual yang melebihi limit -8 hingga -10, maka fireball ini besar kemungkinannya masih menyisakan diri setelah menembus atmosfer dan jatuh sebagai meteorit.

Meteorit tersebut kemungkinan jatuh di daerah pantai atau pesisir perbatasan Bone dan Wajo. Kalkulasi sangat kasar menunjukkan massa meteorit tersebut mungkin sekitar 800 kg dan jatuh menumbuk Bumi dengan kecepatan 0,2 km/ detik sehingga melepaskan energi sebesar 0,004 kiloton TNT sehingga akan membentuk cekungan (kawah).

Jika titik jatuhnya di laut meteorit ini juga berpotensi membentuk gelombang pasang (tsunami), namun lemah, karena jika diasumsikan bahwa energi tumbukannya adalah 0,004 kiloton TNT, kedalaman laut tempat titik tumbukan adalah 10 meter dan titik tumbuk berjarak 100 m dari pantai, maka di pantai terdekat gelombangnya setinggi 1 meter.

Namun, pada jarak 1 km dari titik tumbuk gelombangnya sudah menyusut jauh menjadi tinggal 10 cm. Sehingga, dampaknya tidak signifikan. Belum ada konfirmasi apakah gelombang pasang tersebut memang terjadi. Khususnya dari stasiun-stasiun pemantauan pasang surut yang ada di dekatnya.

Rata-rata setiap 5 tahun sekali fireball berdiameter ~10-an meter ini jatuh ke Bumi. Namun, statistik menunjukkan hanya 2 % saja yang masih menyisakan meteorit berukuran besar dan membentuk kawah tumbukan di permukaan Bumi.

Misalnya dalam kejadian terbentuknya kawah meteorit Wabar (di dekat kota Riyadh, Saudi Arabia) 150 tahun silam yang membentuk kawah bergaris tengah 120 meter, atau pun terbentuknya kawah meteorit Sikhote-Alin (di dekat kota Wladiwostok, Rusia Timur) yang terdiri dari 100 kawah dengan diameter kawah terbesar 27 meter pada 1947.

Terakhir kejadian yang mirip terjadi di dekat Danau Titicaca Carancas (Peru) pada 15 September 2007, yang membentuk kawah bergaris tengah 14 meter. Kejadian fireball signifikan terakhir kali terjadi tepat setahun silam. Ketika asteroid 2008 TC3 terdeteksi oleh jejaring pemantau benda langit hanya 37 jam sebelum jatuh ke wilayah Sudan. Ini merupakan asteroid pertama yang berhasil dilacak jejaknya sebelum jatuh.

Untuk fireball Bone sayangnya tidak ada jaringan teleskop pemantau seperti LINEAR, LONEOS, NEAT, dan lain-lain yang melaporkan pendeteksiannya sebelum ia memasuki atmosfer Bumi, Demikian juga tidak ada satelit seperti METEOSAT atau pun satelit milik Pentagon yang melaporkan kejadiannya ketika ia mulai masuk ke atmosfer.

Mendeteksi obyek dengan diameter -10 meter memang masih sangat sulit untuk resolusi jaringan teleskop pemantau asteroid/ meteoroid dekat Bumi tersebut. Sampai saat ini akurasi pemantauan masih bertahan pada limit 30 meter. Meski dalam kasus asteroid 2008 TC3 pemantauan berhasil dilakukan meski diameter asteroid hanya dalam rentang 2 - 4 meter.

Nah, apa arti kejadian ini. Sebenarnya frekuensi kejadian fireball cukup sering terjadi di Bumi. Statistik menunjukkan tiap 20 jam sekali sebuah fireball terjadi di Bumi. Namun, karena 80% permukaan Bumi adalah laut --kita yang ada di daratan, memiliki peluang yang kecil untuk melihat fireball. Rata-rata tiap 5 tahun sekali obyek dengan diameter -10 m itu masuk ke atmosfer Bumi dan sejauh ini selalu terjadi di daerah yang jauh dari pusat pemukiman.

Beberapa pakar astrofisika mengkhawatirkan dampak asteroid kecil semacam ini. Namun, secara statistika sebenarnya peluangnya untuk jatuh ke pusat pemukiman manusia di Bumi ini cukup kecil. Sehingga, tidak perlu banyak dikhawatirkan.

0 comments:

Post a Comment