Wednesday, November 28, 2012

7:28 AM
PANGERAN Sultan bin Salman, ketua panitia konferensi International Space and Aeronautics Technology, Rabu malam mengumumkan pembentukan Asosiasi Penjelajah Antariksa Asia atau Association of Space Explorers (AASE) sebagaimana dilansir arabnews.com, Sabtu (10/11).

"AASE akan mempertemukan astronot dan kosmonot Asia pada satu platform dan memberikan bimbingan strategis untuk mereka yang berkaitan dengan promosi pada ranah sains antariksa, penelitian dan eksplorasi ruang angkasa," kata Pangeran Sultan.

"Dengan terdiri dari penjelajah ruang angkasa Asia, AASE akan memainkan peran penting dalam merancang kebijakan umum dan program di bidang eksplorasi ruang angkasa," kata Pangeran Sultan, yang juga ketua Komisi Agung untuk Pariwisata dan Purbakala (SCTA).

Ia berbicara selama upacara penutup Kongres ke-25 Asosiasi Penjelajah Antariksa dunia (ASE), yang diselenggarakan bersamaan dengan konferensi Saudi International Space dan Aeronautics Technology di Riyadh.

Sultan bin Salman merupakan satu-satunya astronot Saudi sampai saat ini saat dia berhasi meluncur ke ruang angkasa pada tahun 1985 dengan pesawat ulang alik Discovery milik NASA Amerika Serikat. Penjelajah Asia lainnya adalah kosmonot Muhammed Ahmed Faris dari Suriah yang berhasil mendarat di stasiun luar angkasa Mir milik Uni Soviet dengan roket Soyuz pada 1987. Namun sayang, nasib kosmonot Syria ini berakhir di pengungsian akibat perang Suriah yang masih berkecamuk sampai saat ini. Cosmonot lainnya adalah Abdul Ahad Mohmand dari Afghanistan yang mengunjungi Mir tahun 1988 dengan roket yang sama.

Sebagai satu-satunya keluarga kerajaan berdarah biru di dunia yang berhasil ke luar angkasa, Sultan bin Salman sampai saat ini terus mengembangkan ilmu keastronotannya dan menularkannya ke generasi muda Saudi, tidak seperti kosmonot Suriah yang malah bergabung dengan pasukan oposisi pemberontak serta kosmonot Afghanistan yang beralih kewarganegaraan ke Jerman dan menjadi pegawai perusahaan percetakan.

Sementara di negara-negara Asia Tenggara (Asean) baru kosmonot Vietnam, Phạm Tuân, yang berhasil meluncur ke antariksa tahun 1980 dan Sheikh Muszaphar Shukor dari Malaysia pada tahun 2007 masing-masing dengan roket Soyuz. Hingga saat ini terdapat 33 astronot Asia sebagian besar dari negara-negara bekas Uni Soviet, Jepang dan akan terus bertambah mengingat China sudah berhasil mengirimkan beberapa taikonotnya sejak tahun 2003 lalu.

Beberapa astronot Uni Soviet berhasil menjadi kepala badan ruang angkasa di negara-negara pecahannya. Tidak disebutkan apakah semua astronot ini akan bergabung dengan AASE.

Seperti diketahui, China menjadi satu-satunya negara di Asia yang dapat mengirimkan taikonot ke luar angkasa, walaupun Jepang dan India juga dapat mengirimkan satelit ke bulan maupun planet lainnya. Negara lain seperti Korea Selatan, Korea Utara dan Iran juga mulai mengejar ketertinggalan mereka. Iran bahkan sudah mengirimkan dua kura-kura dan beberapa cacing dan berhasil kembali ke bumi dengan selamat dan hidup. Analisa pada binatang tersebut akan digunakan untuk pengiriman astronot ke luar angkasa.

Indonesia sampai saat ini masih bersikap low profile dalam pengiriman roket ke luar angkasa. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah merencanakan akan mengirimkan satelit di tahun mendatang menggunakan Roket Pengorbit Satelit (RPS) dengan roket utama RX-420 yang berdiameter 42 cm. Lapan juga mengembakan roket dengan diameter dan jarak yang lebih jauh RX-520 dan RX-750.

Belum diketahui apakah Indonesia juga akan berencana mengirimkan penjelajah atau astronot ke luar angkasa dengan roket dalam negeri, mengingat kegagalan dua calon astronot Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono dan cadangan Taufik Akbar, berangkat ke luar angkasa pada tahun 1985, akibat hancurnya pesawat ulang alik AS Challanger. Padahal keduanya dan dua back-up lainnya di Indonesia, sudah menguasai ilmu keastronotan.

0 comments:

Post a Comment